Maka ini saran untuk yang hendak membangun rumah, siapkan juga jaringan listrik agar bisa memanfaatkan panel surya untuk memanen matahari. Minimal jika ada kebutuhan menyambungkan dengan MCB maka tidak perlu harus membobok dinding. Juga diatur, misal lampu mana saja yang akan dibackup jika listrik rumah mati.
Tentu timbul pertanyaan setelah membaca Memanen Matahari Menghapus Trauma, perhitungan teknisnya bagaimana? Biaya dibandingkan ongkos bayar listrik perusahaan negara bagaimana? Untuk itu berikut ini perhitungan teknis teoritis pemasangan PLTS di rumah. Untuk harga, silakan bisa cek di lokapasar.
Pertama, soal kebutuhan. Dari awal saya hanya butuh listrik 24 jam untuk menyalakan aerator dengan daya 60 watt. Artinya energi yang dibutuhkan dalam watt dan jam adalah: 60 Watt x 24 jam = 1440 Wh. Maka dicari baterai yang sekiranya cukup untuk itu. Terpilih baterai 24V 100Ah sehingga energi total baterai; 24V x 100 Ah = 2400 Wh. Artinya baterai ini akan bisa memenuhi kebutuhan beban aerator. Hitungan ini untuk sementara diterima dulu, tentang baterai, nanti di bawah ada catatan sendiri.
Kedua, soal panel surya. Ada dua jenis panel Surya: mono- atau poli-kristalin. Beda harga beda kemampuan juga tentunya. Dipilih yang polikristalin saja karena teknologi lebih baru. Berapa kapasitasnya? Lihat di loka pasar banyak ukurannya juga. Tapi kontraktor menyarankan pasang yang 280 watt dengan Voc 38,4 dan Vmax 31,6. Mengingat kebutuhan maka dipasang dua bilah. Dimensinya kira-kira selebar pintu kamar mandi, berat sekitar 10-15kg. Lihat gambar. Kenapa pasang dua? Mengingat kebutuhan 24 jam sehingga pada saat beroperasi akan mengisi baterai sekaligus menyalakan aerator.

Ketiga, inverter. Inverter ini penting mengingat awalnya akan backup listrik yang ada, jadi harus mengubah dari DC (panel surya) ke AC (listrik rumah). Dipasanglah inverter yang sekiranya cukup memenuhi kapasitas yang dibutuhkan. Lihat gambar.

Keempat, hitungan panen matahari. Katakanlah sinar matahari yang bisa dipanen itu 5 jam, maka dapat hitungan 5 x 2 x 31,6 = 316 volt untuk mengisi baterai sekaligus menyalakan aerator dengan sambungan seri. Pada saat matahari sedang terik (banget) maka panen bisa hingga di atas 50 V dari kedua baterai tersebut (baca di inverter). Dalam keadaan terang biasa (pukul 05:30 – 08:00 dan 16:00 – 18:00 bisa dipanen 26-27 V). Dari hitungan ini sepertinya cocoklah memenuhi kebutuhan awal.
Kesimpulan, perhitungan dengan angka teoritis seperti di atas sudah sangat cukup, bahkan sisa untuk menyalakan aerator 60 watt selama 24 jam. Sudah tidak ada kekhawatiran baterai menjadi kehabisan tenaga. Namun kenyataannya bisa berbeda dari perhitungan.
Satu, terang matahari sangat mempengaruhi pemenuhan optimal kapasitas panel surya. Pernah gegara dua hari hujan maka di hari ketiga baterai drop hingga di bawah 20%, baterai memberi peringatan untuk minta dishutdown. Ini agar umur baterai lebih panjang maka diharapkan baterai tidak drop hingga di bawah 20% atau bahkan 0%. Terpaksa beban aerator dipindahkan. Aerator dengan watt yang lebih kecil dapat dari panel surya, sedang yang 60 watt dipasok dari listrik rumah biasa.
Dua, kapasitas baterai. Ini sangat tricky. Harga baterai ini masih sangat menguras kocek. Silakan cek di lokapasar, dengan spesifikasi seperti itu (24V 100Ah) sudah di harga 1-3 juta rupiah. Itu BEKAS. Biasanya bekas mesin ATM. Sedang yang baru dengan umur muda akan di angka 10-16jt. Mengingat harga itu, digunakan baterai bekas. Tentu kapasitas dayanya sudah tidak seperti hitungan teknis teoritisnya. J
Jika teknologi baterai berkembang, entah dengan isi apa dan dapat menyimpan daya lebih besar, umur baterai yang panjang dan membuat harga baterai murah, catatan ini perlu diperbaiki. Misal, misal ya msial ini: baterai mobil listrik bekas nanti membanjiri pasaran, maka bisalah diharapkan harga lebuh murah.
Tiga, umur panel. Tentu panel surya itu mempunyai umur sendiri. Tetapi dengan garansi hingga 10 tahun, rasanya masih bisa diterima dengan harga yang ada. Ke depan tentu berharap harga akan semakin turun mengingat sudah banyak tempat yang dapat memproduksi.
Kedua hal ini, faktor alam dan faktor alat, sangat berpengaruh terhadap hasil panen mataharinya.
Jika ada yang bertanya: mengapa tidak saling backup dengan listrik rumah saja? Ya, akhirnya diputuskan tidak, sebab jika mau saling backup, artinya baterai akan diisi dari listrik rumah, maka harus menyambungkan dari MCB rumah ke inverter. Walah, malas bobok-bobok tembok. Maka ini saran untuk yang hendak membangun rumah, siapkan juga jaringan listrik untuk bisa memanfaatkan panel surya untuk memanen matahari. Minimal jika ada kebutuhan menyambungkan dengan MCB maka tidak perlu harus membobok dinding. Juga diatur, misal lampu mana saja yang akan dibackup jika listrik rumah mati.
Sementara jika listrik mati, dan butuh penerangan (mati malam) maka dilakukan penyambungan dari stop kontak yang terhubung dengan baterai melalui inverter ke lampu cadangan. Sementara cukup deh.
Disclaimer, ini pengalaman pribadi dengan pengetahuan kelistrikan yang didasarkan ChatGPT karena kesetrum juga merupakan momok sendiri bagi penulis. Segala kesalahan pemahaman menjadi tanggung jawab penulis. Ciao
Sebuah kesimpulan (agak ngawur) yang bisa saya tarik dari tulisan ini adalah: punya ingon-ingon itu ada kalanya merepotkan 😀
Tabik..
Nah itu: ‘ada kalanya’ merepotkan vs ‘setiap kali, senantiasa’ menyenangkan.
Jadi jelas pilihan yang diambil.