Memanen Matahari Menghapus Trauma

Menyenangkan melihat koi berlalu kian kemari, terlihat koi kuning memimpin barisan bergerak dari ujung kolam ke ujung lain lain. Pemandangan yang sangat mengasyikan dan sering membuat lupa waktu.

Trauma
Pada mulanya adalah trauma. Trauma melihat koi kuning naik ke permukaan kolam dan menggelepar-gelepar. Sebuah pemandangan yang menyedihkan banget. Bikin trauma. Kisah ini dimulai dari memanfaatkan void, ruangan terbuka di dalam rumah samping meja makan dan diberi pintu kaca untuk menghindari hujan. Terbuka ke atas sehingga sambil duduk bisa memandang langit. Sepertinya dibuat kolam kecil di situ, diberi ikan koi menarik. Jadilah di Juni 2022 dibuatkan kolam seukuran 80 x 210 cm dengan kedalaman 40 cm. Diisi ikan koi, beli dari peternak (pemijah) koi di dekat rumah. Waktu itu diisi empat belas koi sebesar jempol tangan. Tentu kolam dilengkapi dengan aerator, pakai listrik.

Sudah dua tahun dipelihara, koi sudah bertambah besar, sekira tiga jari besarnya sudah. Sudah tidak lengkap empat belas, ada yang mati karena keluar dari kolam ketika rumah kosong. Ada yang mati karena sakit, tetiba mengambang. Menyenangkan melihat koi berlalu kian kemari, terlihat koi kuning memimpin barisan bergerak dari ujung kolam ke ujung lain lain. Pemandangan yang sangat mengasyikan dan sering membuat lupa waktu. Kebutuhan aerator yang memasok oksigen ke kolam semakin dirasa perlu. Terlihat bila lampu mati, dan tidak segera dinyalakan aerator cadangan menggunakan baterai maka koi-koi akan menghirup udara di permukaan kolam. Megap-megap.

Aerator butuh listrik. Inilah sumber masalah. Seperti diketahui, listrik yang disediakan perusahaan negara itu kadang mati hingga beberapa waktu. Tentu sudah disiapkan backupnya: aerator dengan tenaga baterai dan juga disiapkan UPS. Iya, UPS yang biasanya dipakai untuk komputer meja itu. Tenaga baterai dan UPS tentu terbatas juga waktu penggunaannya. Sedang mati listrik itu kadang bisa sampai 4 jam. Ya betul 4 jam, biasanya jika mati listrik kemudian sempat menyala, beberapa kali mati nyala seperti itu, maka perbaikannya akan lama. Artinya mati listrik akan lama.

Kemudian kejadian, mati listrik ketika ada orang di rumah. Tentu tahap pertama pakai aerator tenaga baterai. Sampai baterai habis, belum nyala. Pasang UPS, lumayan lama sekitar dua jam. Mati juga itu UPS kehabisan tenaga. Mulailah koi itu megap-megap ke permukaan kolam dengan gerakan yang gemulai. Sebuah pemandangan yang sangat menyedihkan. Koi kuning akhirnya sudah tidak tegak berenangnya. Koi yang lain masih megap-megap di permukaan kolam. Akhirnya koi kuning mengambang. Lampu nyala, aerator bekerja normal. Hanya koi kuning yang menenui ajal. Lainnya selamat. Tetapi melihat koi piaraan dua tahun megap-megap di permukaan kolam sungguh menyedihkan.

Ya sudah sekarang arus listrik masuk ke UPS baru ke aerator. Tentu ini cadangan bila mati listrik pas tidak ada orang di rumah. Sampai suatu ketika, mati listrik lama (lagi) dan UPS sudah tidak bisa menghandle beban aerator. Mati. Kelabakan banget, sampai akhirnya mengalirkan air dari toren. Iya membuang air melalui kolam koi. Tidak lama, listrik nyala. Tidak perlu hingga air di toren habis. Namun trauma kematian ikan koi (kuning) semakin membekas. Trauma itu termasuk bila rumah kosong, kepikiran apakah mati listrik lama? Bagaimana dengan koi? Pemasangan UPS itu tidak cukup menghapus trauma.

PLTS – Memanen Matahari
Baca sana sini, tanya sana sini akhirnya memilih memasang PLTS (maunya) sebagai backup bila listrik mati. Ketemu dengan teman saudara yang sudah memasang PLTS di rumahnya untuk kebutuhan listrik rumah (dan charge mobil listrik). Main ke rumahnya, nonton langsung bagaimana aplikasi PLTS. Kebetulan dia juga kontraktor pemasangan PLTS untuk berbagai kebutuhan. Saat itu juga: jadi.

Panel Surya Terpasang

Setelah dihitung hanya untuk menghidupkan aerator dengan daya 60 watt, maka dipasanglah dua bilah (apa tepatnya? lembar) panel surya di atas atap garasi yang kebetulan pakai atap UPVC Alderon. Yawis tinggal diletakkan di situ, kebetulan akan bermandi matahari dari sisi utara. Pun matahari dari sisi selatan (seperti bulan-bulan Oktober-Maret?) tetap tidak terhalangi oleh bayangan rumah. Dipasang inverter dan baterai dan pengamannya. Menggunakan baterai 24V LifePo4 untuk melayani jika sedang tidak ada sinar matahari (malam atau mendung, hujan). Juga diputuskan bukan sebagai backup tetapi full melayani aerator. Ini untuk menghindari pemasangan kabel lagi sebagai input ke baterai melalui inverter. Tentu dari sambungan ke aerator dapat juga diberi beban lampu bila malam mati lampu misalnya. Jadi aerator full pakai tenaga surya dibantu baterai bila sedang tidak ada sinar matahari.

Hitungan teknisnya sudah ditanyakan ke ChatGPT, tidak dituliskan di sini agar tidak bikin mengkerut, akhirnya bisa bebas dari kekhawatiran mati listrik dan koi yang megap-megap. PLTS mengisi baterai mulai dari pukul 05:30an hingga hampir 18:00. Baterai cukup untuk menangani aerator semalaman atau ketika tidak ada sinar matahari. Kemudian terbukti lagi: kemarin mati lampu dari sekitar pukul 14:00 hingga 19:00, tentu tidak ada pengaruhnya ke aerator koi, karena kami sudah menggunakan PLTS. Tersenyum lebar waktu mati lampu sambil menyalakan lampu cadangan dengan listrik dari baterai. Karena itu, tulisan ini akhirnya diselesaikan. Hitung-hitungan teknis bisa tanya ChatGPT, harga pemasangan tidak disertakan. Ciao.

2 thoughts on “Memanen Matahari Menghapus Trauma

    1. Menurutku harga baterai yang masih tinggi menjadi penghalang agar setiap rumah memasang plts seperti itu. Bagaimanapun kita butuh listrik juga ketika tidak ada sinar matahari, malam misale.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *