Menyapu Daun Rontok

Punya kebiasaan setiap pagi menyapu jalanan (kompleks) depan rumah. Pada musim kemarau seperti ini banyak daun mahoni, sawo kecik, dan mangga berguguran. Seneng rasanya kalau dari menyapu itu hasilnya banyak daun yang terkumpul, nanti jalanan terlihat bersih. Gilar-gilar kata orang Jawa.

Menyapu yang membutuhkan waktu 5-10 menit sering memunculkan permenungan. Pagi tadi beberapa daun mahoni yang lurus tidak melengkung, jatuh tengkurap dengan sisi tanpa sudut dengan aspal. Ini susah disapu. Harus diambil atau disapu dari sisi yang lain. Artinya harus berhenti dari gerakan menyapu. Kemudian ketemu lagi yang susah disapu, daun jatuh telentang juga susah disapu. Berhenti lagi dari gerakan menyapu, jongkok ambil daun dan ditaruh di rombongan daun. Beberapa kali begitu. Timbul renungan.

Gerakan berulang menyapu itu adalah hidup yang berulang dari waktu ke waktu, berjalan otomatis tanpa benar-benar disadari. Maka meski berulang tetapi kadang tetap harus berhenti melakukan sesuatu yang berbeda dan tidak otomatis. Bukan karena sekadar berbeda, tetapi karena itu diperlukan untuk melanjutkan hidup (yang otomatis). Meski otomatis dan tidak benar-benar disadari, hidup tetap penuh kelok-onak-duri yang harus disingkirkan demi hidup yang harus diteruskan.

Ketika mengalami kesulitan dalam hidup, beban yang terasa berat, atau sekadar punya waktu untuk merenung maka itu mungkin saatnya memperhatikan keadaan batin, apakah ada yang harus dibenahi. Memperhatikan sekitar, apakah ada yang perlu mendapat perhatian. Semudah ketika menyapu dan menemukan daun yang susah disapu dan butuh diangkat. Ciao

Leave a Reply

Your email address will not be published.