Cerita Butuh Konteks, Juga Tertawa

Ulasan buku, mengingat ini blog hanya tulisan tanpa gambar maka untuk ngecek bukunya silakan klik tautan twitter ini:

Dagelan, pernah dikasih tahu orang tua dulu artinya kegagalan. Dicontohkan: dagel itu kalau gagal melompati parit di sawah. Artinya dagelan itu menjadi lucu karena gagal menggunakan logika. Nah dagelan dan lelucon itu bikin ketawa karena tidak sesuai logika. Itu syarat pertama.

Syarat lelucon yang kedua, ya konteks. Semesta di mana lelucon itu diluncurkan akan menentukan apakah lelucon itu akan membuat tertawa terkekeh, tertawa gembira, senyum kecut atau terdiam gak dong. Bila terdiam, gak dong: apa sih lucunya maka semesta lelucon itu tidak ditangkap dengan baik. Cerita atau lelucon itu gagal membuat lucu karena pendengar tidak mengetahui konteks pembicaraannya. Atau seperti anak sekarang bilang: garing, lelucon bapak-bapak.

Dua hal itu terasa banget pada buku dengan judul Catatan Kriminal MoZu dan Kisah Tawa Lainnya karya Andreas Zu. Buku ini tidak ada penerbitnya karena diterbitkan secara independen oleh penulisnya di masa pageblug tahun 2020 ini. Buku kecil dengan jumlah halaman 180an ini berisi 53 cerita yang dibagi dalam tiga bagian. Tidak penting banget pembagiannya, tidak mempengaruhi harus dibaca dari mana. Setiap cerita itu berdiri sendiri.

Pembagian dilakukan katanya untuk membagi masa cerita. Bagian pertama ketika sedang pendidikan (romo) di seminari. Bagian kedua cerita pengalaman setelah jadi romo dan bagian ketiga agak khusus, berisi 3 tulisan. Tiga tulisan itu dua permenungan, kenangan tentang orang yang sudah meninggal dan satu tulisan dengan judul Andreas Zu, bisa dipastikan tentang penulis yang dilengkapi dengan foto gantengnya (pakai topi sih). Halah, lebay tentu lewah. Tulisan terakhir ini entah kenapa tidak mengusik syaraf tertawa.

Iya, beneran. Jika yang membaca cerita tersebut tidak memahami semesta pembicaraan maka syaraf tertawa dijamin tidak akan terusik. Soal tidur ketika berdoa mungkin mudah memancing tawa siapa pun. Tapi soal akuarium padahal yang dimaksud ordinarium misa tentu butuh waktu berpikir sejenak atau bahkan: apa sih lucunya bagi yang tidak mengetahui apa itu ordinarium misa. Ada beberapa cerita lagi yang begini. Namun bagi pembaca Katolik, akan tertawa terbahak dari awal cerita hingga cerita terakhir. Tapi ya jangan ketawa waktu baca cerita dengan judul: Andreas Zu ya.

Cerita lucu memang bisa berasal dari kelucuan situasi yang terjadi, itu tadi tidak mengikuti logika, tetapi juga bisa berasal dari kesengsaraan tokohnya. Tinggal sudut pandang saja. Tentang penulis yang mabuk arak misal, bisa menimbulkan rasa kasihan, tetapi juga sehat untuk menertawakannya. Cerita berjudul Ambyar Tenan di halaman 51 malah yang membuat tertawa itu ilustrasinya: tergambar kelapa dengan tangkainya seperti sumbu bom dengan pembicaraan: + rumah kita, pak -kayak jaman perjuangan ya, bu. Lha kalau tokoh yang diceritakan itu ya pasti mengalami trauma yang tidak sedikit ya. Kenapa begitu? Baca aja sendiri. Gak boleh banyak spoiler.

Buku yang diberikan ilustrasi oleh Bayu Edvra (romo juga ini, yang pinter bikin gambar dan punya IG yang kontennya ciamik) melengkapi cerita yang ada. Tapi seperti dituliskan oleh penulisnya: (meski coretannya lebih banyak mem-bully saya. Haish!), memperhatikan ilustrasinya memang mengundang senyum sih.

Sebagai buku yang memancing tawa memang penggunaan kata tidak hanya kata baku bahasa Indonesia. Banyak beterbaran (yang bener: bertebaran atau beterbaran atau berterbaran sih?) digunakan bahasa Jawa. Banyak juga ungkapan dalam kata yang tidak ditemukan dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia ya. Mengganggu? Tidak, karena komunikatif. Keliru, mungkin iya jika diukur dengan kaidah berbahasa Indonesia.

Jadi apakah buku ini bisa dibaca oleh mereka yang bukan Katolik atau Kristiani? Ya bisa banget. Bahkan buku ini dijamin tidak hanya akan menyebabkan tertawa tetapi juga penambahan pengetahuan. Minimal mematik keingintahuan bagi yang tidak dapat menangkap konteks cerita dengan baik. Setiap buku yang mengajak berpikir, yang membuat ingin tahu adalah buku yang berhasil. Nah buku ini udah bikin berpikir, bikin ingin tahu, juga memuaskan syaraf ketawa. Istimewa banget. Tabik.

Join the Conversation

3 Comments

  1. “Nah dagelan dan lelucon itu bikin ketawa karena tidak sesuai logika”

    Dhe, kalau cinta itungane lelucon juga ndak? Kan jarene kadang-kadang tak ada logika.
    Hihi

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *