Lima Menit Buat Apa

Lupa, maksudnya tidak ingat, itu iklan produk apa tetapi kata-kata pembukanya: ‘lima menit buat apa’ membekas banget. Membekas baik karena nada kata-kata itu diucapkan tetapi juga melekat kata-katanya. Waktu lima menit buat apa?

Di jaman yang serba maunya cepat ini, waktu menjadi sangat-sangat diperhatikan. Semua diukur dengan efisiensi maupun efektivitas penggunaan waktu. Contoh sederhana, menjadi terganggu ketika koneksi internet lambat (artinya butuh waktu lebih banyak untuk mengakses sesuatu). Padahal benarkan waktu yang ada itu telah dimanfaatkan dengan baik? Benarkah lima menit itu menjadi sangat penting dalam hidup dan keseharian?

Produktivitas menjadi sumber segala hitung menghitung hidup sekarang ini. Pada akhir tahun seperti ini biasanya dilakukan perhitungan: apa yang sudah diraih dalam hidup ini, kemudian nanti disusul dengan ‘yuk buat resolusi di tahun depan’. Yang diraih dalam bentuk barang berujud (tangible) dan yang dibuat dalam bentuk kegiatan. Kegiatan menghasilkan barang berujud. Jika produktivitas hanya dihitung dengan hasil nyata berupa barang, kekayaan lebih tepatnya, maka hidup disederhanakan dengan menghasilkan sesuatu yang berujud barang nyata.

Padahal hidup lebih luas banget dari sekedar menghasilkan barang. Mensyukuri dan menikmati hidup itu juga sesuatu yang sangat penting disadari. Bersyukur bahwa masih diberi hidup oleh Sang Mahatunggal. Apalagi di masa pageblug di mana catatan tentang kesehatan dan kematian demikian sering dijumpai.

Kembali ke ‘lima menit buat apa’, menjadi luas cakupan yang dibuat. Lima menit untuk mensyukuri hidup, mengucap terima kasih kepada Sang Pemberi Hidup, memuliakan-Nya, memuji dan menyembah-Nya. Lima menit dalam kesadaran untuk memuji, memuliakan, menyembah sudah cukup untuk memberi kesegaran pada hidup. Dalam bahasa produktivitas, tidak melakukan apa-apa dalam lima menit itu kecuali jatuh pada kesadaran tentang Sang Khalik, bisa saja tidak efektif apalagi efisien. Tapi dalam bahasa kehidupan, itu sangat berarti karena itu berarti sedang menikmati hidup.

Meskipun terlihat sedang melawankan antara menikmati hidup dan produktivitas tapi tidak berarti yang produktif itu tidak menikmati hidup. Bukan begitu cara melihatnya. Tapi dalam kerangka hidup, perlu harus selalu mempunyai kesadaran diri. Kesadaran diri tentang apa saja. Kali ini kesadaran diri tentang hidup dan pemberi kehidupan.

Buat apa hidup jika tidak dinikmati.

Jika tambah bingung baca ini, itu memang tujuan tulisan ini: membuat berpikir tentang hidup. Tabik.

Join the Conversation

1 Comment

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *