Alat Peraga Kampanye

Tergelitik melihat alat peraga kampanye pemilihan kepala daerah serentak 9 Desember 2020 nanti. Banyak hal bisa disoroti melihat alat peraga kampanye. Masih tetap seperti dulu baliho dan spanduk sebagai alat utama kampanye. Pandemi membuat terlarangnya pengumpulan massa menjadikan spanduk dan baliho pilihan terbaik.

Tapi menarik untuk melihat alat kampanye ini di dua media: spanduk di pinggir jalan dengan yang di koran. Pengamatan sekilas saja langsung bisa membedakan: spanduk di pinggir jalan diberi foto calon dan satu dua tulisan berisi ajakan atau mungkin visi misi singkat. Visi misi singkat juga berupa tagline, biasanya singkatan padu dari nama kedua calon dan dibuat menarik. Tak perlu dikutip di sini nanti jadi kampanye. Tapi tak banyak yang menyertakan lambang partai politik pendukung calon.

Beda dengan yang ada di surat kabar di samping gambar calon, nomor urut, juga dipastikan ada lambang partai pendukung. Mungkin itu iklan dari KPU, mungkin saja karena semua calon ada di situ, baik yang calonnya ada dua, tiga, maupun empat. Tapi mungkin juga itu dari partai pendukung pasangan calon, bukan dari pasangan calon sendiri

Semua tahu bahwa pencalonan itu dapat melalui partai pendukung maupun calon independen. Teknisnya tidak sederhana. Melalui partai harus melebihi ambang batas jumlah kursi yang dipunyai partai pendukung itu di legislatif daerah. Ada yang satu partai tapi ada juga yang banyak partai. Sedang calon nonpartai harus mengumpulkan dukungan yang diwujudkan dengan pengumpulan foto copy kartu tanda penduduk. Dukungan berupa kartu tanda penduduk itu harus memenuhi jumlah tertentu. Tak boleh kurang, tak boleh bodong. Komisi Pemilihan Umum Daerah melakukan verifikasi terhadap foto copy kartu tanda penduduk itu. Ribet, sudah pasti banget ribetnya. Upayanya juga luar biasa mungkin untuk menjaga keadilan, fairness.

Jika begitu, mengapa spanduk dan alat peraga kampanye mereka tidak banyak yang menampilkan lambang partai pendukung? Apakah partai sudah tidak penting lagi untuk menarik pemilih? Kualitas calon lebih utama daripada partai pendukungnya. Setelah ditetapkan sebagai pasangan calon maka partai dapat ditinggalkan. Nanti jika terpilih toh tetap harus ada konsolidasi partai di legislatif agar kebijakannya dapat diwujudkan. Apakah partai itu pendukung atau bukan, konsolidasi tetap harus dilakukan.

Pemilih memang harus memperhatikan catatan perjalanan dan pengalaman pasangan calon. Tidak perlu memperhatikan partai pendukung pasangan calon tersebut. Sebab juga sepertinya tidak ada hubungan antara partai pendukung, visi misi pasangan calon, dan kinerjanya ketika sudah ditetapkan sebagai pemenang. Pemilih memilih bukan didasarkan alasan ideologis partai pendukung tapi lebih kepada ‘rasa sreg’ terhadap pasangan calon tertentu. Itu jika mau memilih. Tak memilih, tak apa.

Ya mau gimana lagi, yuk milih ya, Rabu, 9 Desember 2020. Tabik.

Join the Conversation

3 Comments

    1. Iya, tapi gerakan PKS melalui kegiatan pengajian bukan murni kegiatan politik. Bukan begitu?

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *