Ki Seno Nugroho

Wayang kulit, ini tontonan yang sejak kecil menyihirku. Sihirnya dari suara kecrek di kaki dalang dan gedokan tangannya. Magis. Meskipun hingga remaja tidak bisa dibilang maniak nonton wayang, tapi lumayan. Waktu itu wayang hanya dinikmati dengan pertunjukan live, yang jarang juga terjadi di tempat yang terjangkau. Mahal tanggapan wayang kulit itu, sedang kota kecilku itu bukan kota yang berkelimpahan.

Kemudian muncul wayang kulit dalam siaran radio. Sesekali mendengarkan. Ada Ki Timbul Hadiprayitno, Ki Sugito, Ki Anom Suroto, dan Ki Manteb Sudarsono untuk menunjuk beberapa nama yang terlitas. Juga ada di kaset. Mendengarkan berbeda jauh dengan menonton langsung. Mendengarkan hanya bisa membayangkan sabetan, cara dalang menjalankan wayangnya, apalagi ketika perang. Jika nonton di balik layar maka sabetan ketika perang itu selaras dengan bunyi gamelan yang ketika mendengarkan hanya mendengar bunyi tanpa melihat kelebat. Dulu nonton wayang itu ya melihat di layar, sehingga yang terlihat hanya bayangan. Bukan seperti sekarang wayang ditoton dari balik punggung dalang. Melihat bayangan wayang itu membuat terasa sekali kemampuan dalang menghidupkan wayang. Bener-benar hidup, bernafas, bergerak, berdaging, luka parah, dll.

Cerita wayang tidak pernah benar-benar melekat untuk diingat. Bukan apa, fragmen wayang yang sepotong-sepotong itu lebih menarik. Tapi alasan yang paling tepat: kadang tidak tahan untuk menonton wayang dari suluk sampai tancep kayon mati blencong, dari awal sampai akhir. Yang ditunggu limbukan, perang kembang (perang yang baru banyak omong, perang kata-kata, tantang-tantangan), dan tentu goro-goro di mana punakawan muncul. Pengalaman itu yang membuat menjadi senang nonton Ki Seno Nugroho.

Kira-kira tahun 2018 (?) di youtube mulai ada potongan-potongan ketika Ki Seno Nugroho sedang pentas. Kebanyakan pas goro-goro atau limbukan. Wah pas banget ini. Kemudian menjadi senang menonton Ki Seno Nugroho, kadang nonton live-nya di streaming youtube. Nonton ini jika tidak berakhir pulas maka di tengah tidur nanti di goro-goro bangun. Sebetulnya tidak sepenuhnya menonton karena kadang hanya mendengarkan, sesekali melirik.

Kekuatan Ki Seno menurut saya pada kemampuan ber-1000 suara. Suara Bagong yang sedang marah dengan suara Bagong yang sedang kenes saja beda banget. Apalagi suara Pandita Durna atau Werkudara, wah ya jelas beda banget. Dan itu konsisten. Ini sebabnya mendengarkan youtube Ki Seno juga sudah cukup mengerti apa tokoh siapa yang sedang bicara. Jika nonton langsung maka terlihat dalang akan menggerakkan tangan wayang yang sedang bicara. Itu petunjuk bagi penonton. Nah bagi dalang seperti Ki Seno yang mampu ber-1000 suara, mendengarkan saja sudah cukup mengenali itu suara siapa.

Ki Seno juga banyak membuat lakon carangan, kreatif sekali. (Atau ketika wayang climen Ki Seno mengaku tidak punya banyak yang bisa diceritakan karena penanggap kurang berdiskusi sehingga cerita maunya mengarah kemana tidak terlihat). Betul juga bila dibilang Ki Seno adalah dalang pesanan.

Bahwa sinden dia juga cantik-cantik tentu merdu suaranya, gandem marem, bisa kenes jika diperlukan. Oriza atau Tatin, duh kenes banget kalau sedang kenes tapi begitu serius menembang bisa hilang itu kenesnya. Pengrawit, niyaganya juga piawai banget. Tapi tidak sekali dua Ki Seno mengkoreksi tabuhan pangrawit maupun tembang sinden. Meskipun pasti mereka sudah berlatih, tapi koreksi pas pertunjukan itu beneran menambah pengetahuan baru bagi saya yang buta notasi suara gamelan. Kita jadi tahu ada yang keliru hitungan atau jatuhnya suara sehingga tidak sinkron dengan langkah Bagong terbirit-birit misalnya.

Memperhatikan tayangan live streaming Ki Seno yang bisa mencapai lebih 20ribu penonton memang fenomenal. Ki Seno berhasil mengajak anak muda, mungkin terbatas Jawa, untuk kembali nonton wayang. Ki Seno berhasil memanfaatkan teknologi dengan baik. Ketika pandemi, ketika pertunjungan wayang dilarang, Ki Seno membuat tayangan wayang climen. Pertunjukan tanpa penonton (ada tapi terbatas) dengan durasi 2-3 jam telah cukup mengobati kerinduan akan ke-ngawur dan kementhus-an Bagong. Ki Seno yang sangat perhatian pada tim semua, yang setahu dia tidak punya penghasilan lain kecuali jadi sinden atau pangrawit di pertunjukan Ki Seno, sehingga lumayan bisa mendapatkan hasil dari wayang climen itu. Hingga akhirnya suatu hari.

Ketika pagi itu mendapat berita Ki Seno meninggal. Sedihnya luar biasa. Jika Anda mau merasakan kesedihan yang sama mungkin bisa menonton di youtube saat peti jenasah Ki Seno diangkat menuju ambulance. Saat itu diiringi gending: Ladrang Gajah Seno. Gending yang diciptakan Ki Joko Porong khusus untuk Ki Seno, biasanya dimainkan setelah jejeran, awal dimulai wayang. Perhatikan saat-saat gending itu akan berakhir. Emosional sekali. Tak terasa menetes air mata.

Ki Seno Nugroho, tempatmu wayangan di Surga terbaik bersama orang-orang terkasih. Doakan kami juga bisa sepertimu: menabur kebaikan setiap waktu dengan hal yang kami bisa. Bolo Seno. Tabik.

Koreksi sedikit tentang gending pengiring dan siapa penciptanya. Matur nuwun Mas K. Adi Purwanto @adipurwa74. 05:11:2020 18:30

Join the Conversation

7 Comments

  1. Bacanya jd ikut terbawa suasana😭
    Duka yg mendalam mengiringi Sang Maestro… “Semoga langgeng di keabadian ” 🙏🤲🤲

  2. Saya mungkin bisa relate dengan perasaan semacam ini karena saya menangis kejer saat mendengar Sapardi meninggal beberapa bulan yang lalu. Memang sesedih itu padahal hanya mengenal melalui karya. Semagis itu ya seni bisa mengikat penikmat dengan seorang seniman.

  3. Kehilangan sosok yang mampu menginspirasi pasti rasanya sangat tidak menyenangkan. Apalagi ditambah dengan bayangan bahwa kita tidak bisa lagi menikmati karya-karya terbarunya di masa mendatang.

    Turut merasakan kesedihan ini, pak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *