Sebuah Usaha Memahami Buku Klasik

Resensi Buku Berjudul: Diskursus & Metode, Rene Descartes (Terjemahan) terbitan IRCiSoD 2020

Mengingat blog ini tanpa gambar, silakan klik di situs penerbitnya untuk melihat cover bukunya: https://divapress-online.com/portal/detail_buku/diskursus-metode

Sebuah janji harus ditepati, begitu pula janji untuk menulis resensi atas buku-buku yang sudah dibaca. Kali ini buku berjudul: Diskursus & Metode – Mencari Kebenaran dalam Ilmu-Ilmu Pengetahuan, karya Rene Descartes, terjemahan terbitan IRCiSod Yogya 2020. Edisi lama pernah terbit tahun 2015, begitu penjelasan di buku ini.

Ini termasuk buku klasik. Seperti buku klasik lain, pembaca awam (minimal saya) tidak mudah membaca dan berusaha mengerti apa yang dimaksud penulis. Banyak hal yang menyebabkan begini, salah satunya konteks waktu. Sebuah tulisan, apalagi buku, selalu mengandung konteks waktu pada saat itu ditulis. Penyebab lain, masalah bahasa. Penerjemahan selalu mengandung kelemahan untuk bisa mengalihbahasakan dengan baik, dengan pengertian penuh, dengan tetap berpegang teguh dengan apa yang dituliskan. Namun karena tidak menguasai bahasa asli penulis, maka setiap usaha penerjemahan akan tetap bermanfaat.

Soal konteks waktu, Pengantar Penerjemah dan Pengantar Edisi Ingris, lumayan membantu. Iya, tidak lupa buku ini diterjemahkan dari naskah Inggris sedangkan Descartes sendiri menulis dalam bahasa Perancis. Bahkan penerjemah Ahmad Faridl Ma’aruf membantu sekali untuk mengerti potongan ‘cogitu ergo sum‘ yang sangat terkenal dari Descartes. Catatan kritisnya tentang ‘berpikir’ (cogito) dan ‘meragu’ (dubito) membantu kita meletakkan konteks jaman dengan lebih baik. Ajakan Rene Descartes agar melalui pengetahuan menjadi pangeran yang gilang gemilang dengan cahaya ilmu dan menjadi penguasa dunia mendapat kritikan tajam.

Prinsip cogitu ergo sum membuka peluang bagi munculnya dominasi medium yang di masa Rene Descartes adalah ilmu pengetahuan sedang di masa sekarang adalah media. Seperti yang kita lihat di jaman internet ini media tidak hanya melayani penyampaian objek ke subjek tetapi malah menanipulasinya. Tulisnya: Potensi media untuk memanipulasi realitas di luar subjek (res cogitans) dalam media (informasi dan telekomunikasi) massa, berkembang menjadi kesanggupan untuk membangun realitas-realitas baru yang bukan potret kenyataan sehari-hari yang dimanipulasi, melainkan berupa kehidupan yang telah dirumuskan dan dicipta ulang dalam cara baru (hal. 13).

Pengantar dari Edisi Inggris lebih menggambarkan konteks ditulisnya buku itu oleh Rene Descartes. Catatan pendek yang membantu memahami suasana kebatinan sehingga misalnya sebuah bukunya yang selesai ditulis tahun 1628 tetapi baru diterbitkan setelah kematiannya. Sepertinya mempertimbangkan pelarangan Galileo Galilei oleh otoritas Gereja Katolik Roma terkait dengan buku dan pandangannya yang berbeda dengan keyakinan. Rene Descartes setuju dengan pandangan Galileo dan berbeda dengan otoritas. Buku tipis ini dilengkapi ringkasan Tentang Penulis secara kronologis dari kelahiran 31 Maret 1597, kegiatan Rene Descartes termasuk terbitan bukunya, hingga meninggal 11 Februari 1650.

Seperti ditulis di awal, saya agak kesulitan membaca tulisan klasik seperti ini. Pun sudah dalam bentuk terjemahan bahasa Indonesia. Di internet bertebaran terjemahan buku ini. Bermacam cara dilakukan orang untuk membantu memahami dengan baik maksud tulisan Rene Descartes ini. Ada yang memberikan catatan kaki (yang sangat banyak dan panjang), ada yang menambahkan titik (.) agar pemahanan bisa lebih baik atau menambahkan paragraf agar lebih jelas. Salah satunya di sini: https://www.earlymoderntexts.com/assets/pdfs/descartes1637.pdf

Seperti penulis klasik lain, bahkan dari penulis Yunani sebelum Masehi, banyak yang menulis karena mimpi-mimpi yang diterimanya. Ketika ilmu pengetahuan belum seperti sekarang, empirisme yaitu pengalaman memang memegang peranan penting. Bahkan metode Platon dengan terus bertanya juga merupakan jalan mencari pengetahuan, menyingkapkan apa yang ada ditemui di alam semesta, di kehidupan sehari-hari. Cogito ergo sum itu muncul dari sebuah perenungan sederhana: saya dapat membayangkan seolah-olah saya sama sekali tidak memiliki badan dan tidak ada dunia atau pun ruang tempat saya berada, tetapi saya tidak dapat beranggapan bahwa saya tidak ada, bahkan sebaliknya: kenyataan bahwa saya meragukan segala sesuatu justru membuktikan dengan jelas dan pasti bahwa saya ada. Sebaliknya, seandainya saya berhenti berpikir, walaupun hal lain yang saya bayangkan memang benar ada, saya tidak mempunyai alasan apa pun untuk menyatakan bahwa saya ada. (hal 67) Nah kayak gitu panjangnya kalimat Descartes setelah diterjemahkan. Pun terjemahan bahasa Inggris (lihat link di atas) juga agak mbulet begitu.

Dalam risalah ketiga, yang diberikan tambahan judul: Beberapa Kaidah Moral yang Didasarkan atas Metode Kesangsian, ada hal yang menarik. (Judul ini aslinya ada di bagian depan ketika Descartes menganggap risalahnya terlalu panjang sehingga membagi dalam enam bagian.) Rene adalah seorang yang moderat, minimal dalam pengakuannya bahwa kepatuhan terhadap undang-undang dan adat istiadat sambil berpegang teguh pada agama berpedoman pada pendapat yang paling moderat dan yang paling jauh dari ekstrem (hal 54).

Rene Descartes belajar di kolese yang diampu oleh Jesuit sehingga tidak kaget kalau saja dituliskan begini: Dengan berpedoman pada pepatah ‘mengusahakan yang terbaik dari keadaan yang tidak baik’, kita tidak akan lebih menginginkan keadaan sehat, kalau sedang sakit; atau tidak akan lebih menginginkan kebebasan, kalau kita sedang mendekam dalam penjara. Kita pun tidak berhasrat memiliki tubuh yang terbuat dari bahan yang tidak gampang rusak seperti berlian, ataupun mempunyai sayap untuk terbang seperti burung. (hal 58) Bagi yang mempelajari spiritualitas Ignatian tentu akan teringat warisan Ignatius Loyola ini.

Jadi bermanfaat tidak buku ini? Jawabannya sudah pasti: setiap buku yang diterbitkan selalu lebih bermanfaat dari pemikiran yang tidak pernah dituliskan apalagi diterbitkan sebriliant apa pun pemikiran itu. Bahwa membaca buku ini perlu waktu dan kesediaan untuk berhenti dan berpikir sedikit untuk mengerti apa maksudnya, itu sudah pasti. Membaca buku memang kegiatan untuk mau berbagi pandangan atau memahami (pandangan) orang lain.

Jadi, bacalah buku ini (juga buku-buku yang lain). Tabik.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *