House for Sale

Setiap kita pasti punya lagu kenangan. Bahkan tidak cuma satu. Banyak. Nanti deh cerita soal lagu Release Me. Sebuah kenangan konyol jaman kelas satu SMA. Nanti deh dituliskan.

Kali ini cerita tentang lagu House For Sale. Silakan gugling buat cari informasi soal lagu ini. Sebuah lagu lawas, yang melodinya enak didengarkan. Dangkadang tetiba berguman dendang lagu ini lirih. Tapi bukan keindahan melodi atau mudahnya didendangkan sehingga jadi cerita ini.

Bapakku seorang pensiunan pegawai kantor pertanian daerah. Pensiun dini tahun 1970an karena tidak tahan ditekan politik. Aspirasi pegawai negeri mesti ke Golkar. Katanya, waktu itu masih kecil banget jadi gak ngerti cerita lengkapnya. Tapi ini cerita tak terkait politik.

Pensiun dini membuat Bapak mesti punya usaha. Ya mesti karena pensiunan gak mungkin membiayai anaknya yang jumlahnya 10 yang hidup. Yang sudah meninggal gak perlu biaya. Usahanya penggilingan padi (dan warung kelontong ditunggu Ibu). Ada juga sih ayam petelur dan pedaging, tapi itu sambilan saja. Usaha tentu bisa maju jika tidak hanya mengandalkan modal sendiri, juga dari utang. Di sinilah mulai cerita kenangan.

Awalnya usaha Bapak dibantu keluarga. Tapi jadi kisruh ketika melihat usaha berhasil dan mereka hendak menguasai penggilingan padi. Bapak ambil keputusan: utang bank buat melunasi utang saudara. Masuklah itu sertifikat rumah ke bank.

Namanya juga usaha, ada naik turun. Suatu ketika cicilan bank gak lancar, bahkan mandeg. Usaha penagihan dari bank ya bertubi-tubi. Tapi memang gak ada uang buat melunasi.

Suatu saat, kelas 2 atau 3 SMP, siang-siang sepulang sekolah yang panas, di rumah dipasang pengumuman: RUMAH DIJUAL OLEH BANK XXXX. Terpukul banget kami dengan pengumuman itu. Terbayang, rumah tempat kami lahir, besar dan penuh kenangan mesti dijual. Berpisah. Sedih. Nangis di rumah. Malu juga. Campur aduk.

Merasakan ‘and tomorrow some strangers will be climbing up the stairs‘, itu mengerikan. Merusak kenangan banget.

Entah usaha Bapak gimana, sekira seminggu papan pengumuman itu sudah dicopot. Tidak terlalu ingat waktunya, tapi rasanya itu sebentar. Tapi ingatan soal ketakutan kehilangan rumah dan kenangannya menetap. Jadi tergambar di lagu berjudul House For Sale tadi. Sampai sekarang, tidak pernah tega melihat tulisan: RUMAH INI DIJUAL, di rumah-rumah yang saya kenal penghuninya.

Cerita ini dipicu pertanyaan teman sekolah yang tidak ketemu lagi rumah kidul pasar khewan (begini dulu alamat rumahnya). Rumahnya masih ada, jadi rumah keluarga bersama. Kenangannya masih tersimpan di sana, meski kami jarang mengunjunginya. Apalagi di masa pandemi ini. Tabik.

Join the Conversation

7 Comments

  1. Ada beberapa catatan.
    1. Kalau tak salah lagu ini juga dibahas di Topchords. Biasanya yang membahas adalah Ariel Heryanto waktu dia masih mahasiswa.

    2. Rumah disita, rumah dijual, saya teringat cerita Ria Irawan kepada media apa lupa, waktu kecil dia dan keluarga juga mengalami.

    3. Teman saya selalu mengenang saat merangkak karier, lalu ibu mertua datang, eh ada petugas BTN datang akan menempelkan tulisan “rumah ini disita” karena menunggak cicilan.

    4. Apakah saya pernah mengalami? Untuk rumah sejauh ini belum, tapi untuk hal lain pernah, ditarik oleh bank secara baik-baik, dan saya dapat uang kembalian

  2. Ha…. Saya mengalami hal berbeda, house to destroying, rumah Bapakku kena gusur. Sampai dua kali kena gusuran, perih karena cuma dapat uang pesangon pindah, bukan uang ganti rugi, yang besarnya cuma cukup buat sewa truck untuk mengangkut perabotan ke rumah sewaan. Untungnya masih ada keluarga ibubyang sembunyi-sembunyi dari istrinya mengulurkan tangan memberi sedikit yang untuk bisa membeli rumah di pinggiran Jakarta.
    Yah……. Benar-benar sedih harus terpisah dari teman-teman masa kecil, yang sekarang entah dimana.

  3. Waktu masih anak-anak dan mulai paham Bahasa Inggris, saya merasa agak aneh dengan lagu ini. Kenapa harus sedih dengan rumah yang dijual?

    Bayangan saya waktu itu, jual rumah kan dapet duit banyak. Naif sekali 😀

    1. Hahahaha….. Soal lagu Bahasa Inggris, saya punya pengalaman konyol, malu juga. Nanti kalau sudah sempat, tak tulisnya.

  4. Aku ya pernah mengalaminya. Sudah bersusah payah membangun beberapa Rumah dan Hotel, eh tiba² air dr pdam dipadamkan. Sempet masuk penjara juga lantaran mabuk di depan umum. Untung saja ada kartu bebas penjara dan parkir bebas. Sayangnya, dana umum belum pernah mendapatkan. Hanya mengharap dari kartu kesempatan.
    #MainMonopoli

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *