Catatan Perkawinan

Delapan tahun lalu, dibuat sebuah tulisan seperti ini:

Dua Puluh Tahun Berdua, Diperingati Cuma Berdua dan Tak Ada Kurangnya

Hari ini, Kamis 23 Agustus 2012 adalah tahun keduapuluh kami mengikrarkan janji mengikat hati sehidup semati sebagai suami istri dalam sakramen suci. Dua puluh tahun yang lalu, waktu itu hari Minggu, bertempat di Gereja Hati Kudus Yesus Pugeran Yogyakarta di depan Pastor Noto Susilo, Pr. Soal nama pastornya karena tidak cek di akte nikah, tidak yakin apakah ‘Susilo” atau yang lain. Kami menyebutnya ‘Pakdhe Romo’ karena kebetulan beliau adalah kakak dari tetangga orang tua kami.

Dua puluh tahun itu tentu dijalani dari detik, menit, jam, hari, minggu, bulan, dan akhirnya sampai dua puluh tahun. Tidak semua kenangan detik per detik diingat, tidak juga semua perkataan. Pun juga tidak semua masalah bisa kami pecahkan. Tapi dua puluh tahun tentu bukan waktu sebentar. Banyak yang bisa dikenang. Beberapa yang bener-benar membekas.

“Mana momongannya?” begitu pertanyaan menyambut kami rasanya sejak tahun kedua. Setiap ketemu orang yang kenal dengan kami, pasti pertanyaan sejenis itu terlontar. Risi, tentu saja iya. Tapi apa mau dikata, itu orang yang bertanya dan kami hanya bisa menjawab. Jawaban kami awalnya adalah senyum, kemudian senyum kecut, kemudian ‘sedang berusaha’, kemudian ‘belum diberi kepercayaan sama Tuhan’, kemudian kami tak pernah perlu menjawab lagi karena sudah tidak ada yang bertanya.

Saya ingat, sejak tahun ketujuh kami sepakat untuk tidak lagi berusaha (keras) mendapat momongan, tidak juga memilih untuk mengadopsi anak. Penuh percaya bahwa Allah berkehendak tertentu terhadap kami. Entah apa itu. Almahrum Ibu mungkin prihatin dengan kondisi kami, tapi karena kami selalu tersenyum, tak pernah terdengar ‘ribut’, beliau pernah berpesan: ‘sing sabar, sing ayem’. (Bayangannya adalah: saya anak nomor sembilan dari sepuluh bersaudara dan istri anak nomor satu dari empat bersaudara.) Dan alhamdullilah, kami tidak pernah ribut soal anak. Benar, tidak pernah sekalipun kami berdua ribut karena hal itu. Hingga saat ini, dua puluh tahun sudah berjalan. Tentu berharap dan berusaha tidak juga ribut soal itu untuk, jika boleh, puluhan tahun kemudian.

Bohong saja jika kami tidak pernah ribut. Pernah. Tak malu kami mengaku kami pernah ‘ribut’, karena kenakalan saya. Saya sebut sebagai ‘kenakalan’, tapi istri tak pernah terima. Kenakalan karena tak pakai hati, tapi istri bilang: tidak mungkin. Saya bilang: iseng aja, tapi istri bilang: iseng kok kayak gitu! Padahal bener, tak pernah terbersit misalnya untuk beristri dua. Secara guyon saya bilang: istri satu, mertuanya aja ada dua, apalagi istri dua, mertua bakal ada empat. Terbayangkan kerepotannya. Apalagi harus meninggalkan istri, untuk juga ganti dua mertua. Tidak sama sekali. Tapi pada saat itu terjadi: guyonan kayak gitu hanya menyulut api. Meskipun akhirnya, kami selalu bersama dan berharap terus bisa bersama sampai nanti.

Keributan biasanya membesar jika kami sudah tidak menggunakan nama panggilan sebagai sapaan tapi berubah menjadi ‘kamu, kowe’. Keributan-keributan itu jika dikenang, hanya karena egoisme semata. Saat yang satu merasa benar dan yang satunya merasa lebih benar. Tak tahu obatnya, tapi mencoba berdiam diri dan berpindah posisi pandang setiap kali bisa menyelesaikan keributan.

Dari awal hingga beberapa tahun belakangan, kami rajin untuk berdoa pagi bersama. Doa pagi kami mulai dengan Doa Malaikat Tuhan pas jam enam pagi, disusul dengan doa Persembahan Harian dari Kerasulan Doa dan Penyerahan Keluarga. Kira-kira akan menghabiskan waktu sekitar 10 menit. Baru setelah itu saya berangkat kerja. Begitu sepanjang beberapa tahun. Belakangan ini hal itu tidak terjadi, bukan apa lalu lintas yang semakin macet, membuat saya harus berangkat lebih pagi, meski dengan begitu juga membuat kepagian sampai kantor. Doa Malaikat Tuhan pun saya lakukan di perjalanan ke (dari) kantor. Tapi kami masih saling mengingatkan untuk: ‘ayo maltu – Malaikat Tuhan’, meskipun kami berjauhan.

Biasanya nih, kalau sedang ribut, istri bangun pagi terus baca Injil pakai suara begitu. Jadi terpaksa dengar. Terus saya juga baca, tapi hanya Mazmur diurut atau diacak menurut kesenangan saat itu. Tak tahu juga, apakah itu yang membuat kami bisa bertahan ketika sedang ribut maupun dalam keadaan yang sulit.

Keadaan sulit, ya tentu ada keadaan sulit. Inget sekali, awal bawa istri ke Jakarta tidur menghampar tikar. Dengan jendela kaca tanpa tirai ditutup koran di sebuah kontrakan. Ah Tuhan ternyata baik, sekitar seminggu teman yang sering mengerjakan proyek bersama datang dan memberikan bagian uang proyek pembuatan sistem akuntansi yang sudah diselesaikan sekitar dua tahun sebelumnya. Bener-bener berkah. Kebeli tuh kasur dan segala keperluan rumah tangga. Banyak kenangan akan kesulitan, tapi kami mengingatnya sebagai kenangan manis karena kami selalu bisa melewatinya.

Pun juga hari ini ketika dua puluh tahun diperingati. Kami memperingatinya berdua, kami sengaja hanya di tahun kelipatan delapan (windu), kami akan ‘sedikit berpesta’, di luar itu tidak. Paling juga dirayakan berdua. Biasanya dengan misa pagi bersama. Hari ini kami memperingatinya di tempat yang baru kami tinggali sekitar sebulan. Tempat tinggal yang bisa kami tinggali berdua, meninggalkan rumah yang kami tinggali hampir empat belas tahun. Sebuah pilihan untuk mencoba merasakan ‘lepas bebas’, bebas dari kelekatan, yang ternyata tidak gampang meskipun kondisi objektif menjadi lebih baik. Seburuk apapun kenangan masa lalu, kadang menjadi manis untuk dikenang dan tidak mudah untuk digantikan.

Kemudian empat tahun lalu, ketika memperingati tiga windu perkawinan ditulis di blog ini:

Hari ini waktunya untuk membaca itu semua lagi saja. Tabik.

Join the Conversation

2 Comments

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *