Ketipu Cendol

Seperti biasa, bila sariawan maka cari cincau alias camcao. Bila keadaan normal, sebelum pandemi, di sebelah kantor pasti ada yang jualan. Sekarang di rumah saja, tukang cincau kadang juga lewat. Kadang. Soal kadang ini ya tak tentu. Sedang dibutuhkan begini, dua hari ditunggu, kang cincau gak lewat.

Terus ingat, jaman modern. Pakai aplikasi. Sat-set lihat di aplikasi food. Eh ada beberapa yang menawarkan cincau. Tak mau salah, lihat foto-fotonya. Yakin itu cincau yang camcao, akhirnya cari yang paling deket dari rumah.

Aplikasi emang hebat. Tidak perlu lama cincau itu sudah datang. Dalam dua bentuk: cincau air gula aren dan cincau capucino. Sesuai pesanan. Manteb, siang-siang panas ketemu es cincau, seger banget.

Iya segar. Tapi ini bukan cincau yang diinginkan. Ini mah, cendol bukan camcao. Kok? Dari warna sudah kelihatan, yang diinginkan cincau yang camcao, yang warnanya hijau. Rasanya ya rasa camcao. Yang ini warnanya hitam, dibuat kotak-kotak gitu, dan rasanya abu gitu deh. Betul, ini mah cendol dijual sebagai cincau.

Atau mungkin pengertian cincauku harus dikoreksi. Cincau itu bukan camcao. Tapi penjual yang deket kantor dan yang keliling itu jelas menulis di gerobaknya: es cincau. Bukan es camcao.

Aplikasi jualan memang sangat membantu TAPI pembeli harus cermat dan jika perlu mencari informasi terlebih dulu. Jika hanya berdasar tulisan dan gambar yang ada, bisa ketipu. Akhirnya cuma dapat cendol manis dingin segar tapi tak terobati ini sariawan.

hffffsst (suara menyedot udara mengurangi perih di bibir).

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *