Lay-anan Telek-omunikasi -2

lanjutan dari Seri 1 di sini.

Lanjut. Berbekal keinginan untuk mengetahui apakah pindah paket, migrasi itu sebutannya, bisa dilakukan secara online atau harus ke Plaza Telkom. Pertanyaan di DM ke akun twitter: bagaimana caranya supaya tidak terimplementasi ip private? Apakah harus pindah paket?

Lewat. Jawabannya jauh panggang dari api, kira-kira begini: untuk berhenti layanan DDNS, bisa dilakukan secara mandiri. Silakan dicoba. Nah lihat ya, kok malah disarankan untuk mencoba berhenti dari layanan DDNS. Jadilah diterangkan sekali lagi permasalahannya: gak mau terimplementasi ip private, maunya ip public. Apakah migrasi layanan bisa online atau harus ke Plaza Telkom? Tak lupa ditwit juga: ‘tolong ya, pahami pertanyaan pelanggan dengan baik. Jangan asal jawab’. Agak kesel banget ye khan.

Lelah. Ealah dari admin lain lagi malah menjelaskan karena ip dynamic maka ada kemungkinan dapat ip private. Gak usah pindah paket, cukup restart modem (sound familier ye khan). Ampun gak cobak. Semakin menjauh dari api ini panggangan. Mulai kesel karena gak menjawab, pertanyaan langsung saja: ‘Saya perlu ke Plaza Telkom atau tidak?’ Pertanyaan sederhana itu dijawa dengan nomor tiket karena aktivitasnya terganggu dengan keluhan DDNS.

Lagi. Yeeeeeee, dari awal gak ada keluhan DDNS kok, ya ngeluh soal ip private, tapi intinya tidak di situ: kalau migrasi paket harus ke Plaza Telkom atau tidak. Itu tidak mengeluh, tidak ada masalah yang diadukan, itu bertanya.

Lebih lagi. Lebih ngawur lagi reply berikutnya: ‘maaf buat Kakak tidak nyaman perihal pertanyaan kakak mengenai restart modem bisa Kak tapi harus berlangganan terlebih dahulu cek lengkap di alamat (situs yang saya juga sudah tahu). Ini admin baru lagi, ngawur lagi to. Lha siapa juga yang mengeluh soal restart modem. Pertanyaan penting: perlu ke Plaza Telkom atau tidak, malah tidak terjawab.

Lewah. Diulangi pertanyaannya: ‘saya perlu ke Plaza Telkom atau tidak?’. Bujug boneng, sapi anak kadal tenan. Malah dijawab panjang bagaimana caranya saya langganan DDNS. Mubasir banget harus membaca reply itu, panjang tapi gak perlu. Gak paham.

Lainnya. Sudah selesai? Belum dong. Terus satu admin yang namanya pernah muncul reply lagi: bagaimana caranya keluhan itu disampaikan. Lha bukannya DM ini sudah dilakukan? Eh bukan ternyata tujuannya ke akun lain lagi, yang pakai promo gitu. Halah-halah, ya ogah.

Lagi-lagi. Muncul lagi reply ‘perihal kendala pada DDNS silakah menghubungi call centre atau email’. Jadi kalian ini tempat menyampaikan keluhan atau gimana kok malah mengalihkan ke tempat pengaduan yang lain. Ini admin yang namanya pernah muncul juga. Karena dia suruh itu, dijawab: ‘maaf kak xxx, tidak. Saya sudah memutuskan untuk pergi ke Plasa Telkom. Sepertinya meskipun Telkom perusahaan telekomunikasi tetapi komunikasi bisa tidak nyambung begini. Selamat malam. Terima kasih.’ (Jawaban ini jadi template tinggal ganti nama admin yang ngereply.)

Lepas. Selesai? Ya belum. Tapi udah males nulisnya. Malah ada yang nyuruh-nyuruh nanti kalau teknisi datang tinggal disampaikan kalau sudah ke Plaza Telkom dan kendala solved. Hahahhahhahaha jawab agak dongkol: ‘Ogah, Kok jadi saya disuruh-suruh gini. Wis to, cabut tiketnya’.

Lelah. Wis to cabut tiketnya jadi template reply baru. Ada 4 reply pakai template itu dengan ganti nama admin yang menjawab. Ada tiga admin lagi yang reply dengan ucapan: ‘maaf telah mengganggu’. Konsisten dijawab: ‘siap, bagus kok layanan gangguannya. Saya tidak mengalami gangguan’. Jawab gini sambil senyum-senyum gegoleran, jam menunjukkan 22:40

Lain lagi. Ealah ada gitu yang ngasih tautan buat ngisi survey. Saya isi? Tidaklah. Nanti-nanti aja. Terakhir ada yang minta agar apresiasinya dimention ke akun resmi. Belum juga saya mention, nanti-nanti saja ngisinya.

Lanjutannya. Terus paginya, kira-kira 10 jam dari reply terakhir pergi ke Plaza Telkom, tidak jauh juga dari rumah.

DUAR SATU, dapat penjelasan untuk migrasi saja ke paket gamer (informasi ini ada di situs layanan DDNS) agar selalu dapat ip publik. Udah tahu.

DUAR DUA, karena pemasangan telepon land line dulu atas nama saudara dan tidak dilakukan perubahan, maka untuk urusan migrasi paket harus pakai surat kuasa. YA AMPUN! Gak sempat tanya, perlu meterai atau tidak. Baru tahu.

DUAR TIGA, ‘mending bapak lewat satu empat tujuh saja, bisa langsung ditangani’. Langsung kelaparan berat nih. KO dong. Menang dia.

Pulang, mampir makan dulu deh, sambil mikir apa salah dan dosa untuk urusan begini saja belibet begini. Sampai rumah, telepon 147, gak pakai dicek apa-apa kecuali nyebutin nomor pelanggan dan alamat, langsung dibantu untuk minta migrasi. Percakapan direkam. Tapi implementasinya masih harus nunggu maksimal 3×24 jam.

Saran buat Telkom atau Indihome:
1) perbaiki layanan pelanggan dalam memahami pertanyaan, keluhan atau apa pun namanya dari pelanggan. Bikin kesal kalau hal-hal yang sudah diutarakan, malah diputarbalikkan. Latih mereka memahami apa yang ditulis, perlu waktu untuk membaca, memahami, dan membalas dengan tepat.

2) layanan ketemu muka di Plaza Telkom kok malah lebih rumit dari layanan melalui telepon? Apakah karena Telkom perusahaan telekomunikasi jadi kalau lewat telepon lebih valid? Bukannya bentuk fisik, bawa identitas yang sah jauh lebih valid?

Apresiasi untuk Telkom dan Indihome:
Layanan gangguan atau keluhannya okay banget sebetulnya. Nyatanya pas perjalanan ke Plaza itu ada telepon dari teknisi. Saya jawab melalui pesan saja: permasalahan sudah selesai, tolong ditutup tiketnya. Jarang mengalami kendala atau gangguan, sehingga kaget juga kalau responnya bisa secepat itu.

telekomunikasi itu bukan telek-omuniasi tapi tele-komunikasi. Artinya komunikasi jarak jauh malah lebih diterima dari komunikasi ketemu muka. Tamat

Join the Conversation

4 Comments

  1. Saya sih pesimistis mereka akan peduli terhadap kritik macam ini.
    Gini aja udah laku, lagian konsumen lain biasa aja. Yang penting gaji lancar, kelak dapat pangsiun.

  2. Indihome sungguh kacrut. saya sudah cabut layanan, datang ke Plasa Telkom, melunasi tagihan, mengembalikan perangkat, tapi akun saya masih aktif dan dapat tagihan!

    komplain ke Twitter, dikira saya baru mengajukan pencabutan layanan.. hedeh..

    setelah misuh-misuh dan menunjukkan seluruh bukti, layanan internet dicabut..

    bulan berikutnya, dapat tagihan lagi.. katanya layanan telepon masih aktif.. kan kopeet..

    protes lagi marah-marah lewat Twitter, akhirnya beres..

    butuh waktu 3 bulan setelah cabut layanan untuk bisa tenang..

    sistem billing mereka bapuk sekali memang..

    1. Aku sih nyerah nyari operator yang lain, mati urip nderek indidlahome, monopoli, yang boleh masuk ke ke kompleks cuma FO-nya dia sih.
      Mungkin billing sama seperti customer service, dipegang pihak ketiga. Ukuran layanan pihak ketiga itu mungkin bukan dari kepuasan pelanggan, tapi dari hal-hal lain.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *