Kak-i Tig-a

Sore yang gerah itu tambah pengap. Meski ada hujan tapi seharian ini mendung tak jelas. Muka Killy tampak cemberut, muka yang sehari-hari terlihat lucu kini seperti menahan marah. Kikhu di depannya mengawasi. Sikill di sebelah sana terlihat tenang tapi menyimpan dendam, ekornya mengibas perlahan, tertahan-tahan.

“Gak boleh kamu begitu,” kata Kikhu ditujukan ke Killy.
“Jangan pernah mengejek apalagi menghina Sikill begitu. Tak baik”.

“Tapi dia emang kaki tiga kok,” Killy membela diri.

“Li, bahasa itu soal memilih kata. Menggunakan intonasi bila kita bicara. Bahasa tidak hanya menyampaikan informasi. Bahasa juga berdaya ubah,” cerocos Kikhu.

“Li, jangan duduk di laptop itu peringatan. Kamu, saya, Sikill gak boleh seneng-seneng duduk di laptop.”

Coba bedakan dengan:”lucu banget kamu Li, apalagi terus hidungmu dipithes sama Buni.” Kikhu melanjutkan.

“Iya, kerasa kalau aku disuka sama Buni. Bikin aku semangat untuk bermain sepanjang hari, menghibur Buni dan Pawi”.

“Pinter,” Kikhu memotong.

“Terhadap yang berbeda, kita harus menaruh respek. Simpati. Hanya dengan begitu kita bisa berempati. Merasakan apa yang mereka rasakan,” Kikhu meneruskan berkotbah.

Killy perlahan mendekati Sikill dan kemudian mereka berdua kruntelan lagi, melupakan kata-kata menyakitkan yang tadi terucap Killy. Kikhu meneruskan tidur sorenya yang terganggu.

Join the Conversation

3 Comments

    1. Untuk mengingatkan bawah kakinya tinggal tiga. Tapi juga karena senang aktivitasnya melakukan pembulian hingga mati anak cicak dan cicak.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *